Pokok Doa  |  Link  |  Peta Situs
Email: Password:   Lupa Password?
Bergantung Sepenuhnya Kepada-Nya
oleh Novhita Paembonan, SKM: 02-02-2017, Dibaca: 223 kali

BERGANTUNG SEPENUHNYA KEPADA-NYA (1 Sam 2: 1-10)

Penulis: Novhita Paembonan, SKM

Nyanyian puji-pujian Hana adalah bentuk syukur yang Hana naikkan bukan hanya atas Samuel, anak yang ia nantikan begitu lama, tapi pujian terhadap Allah yang memelihara hidupnya dan melihat kondisinya dalam hari-hari yang ia jalani. Sebelum Allah memberikan Samuel kepada Hana, ia menjalani tahun demi tahun dalam kesedihan karena mandul, apalagi madunya, Penina, selalu menyakiti hatinya (1 Sam 1:7). Namun, Hana menjalani kondisinya dalam penyerahan dan kebergantungan penuh hanya kepada Allah. 1 Sam 1:9-20 menceritakan bagaimana Hana menunjukkan kebergantungannya kepada Allah dalam doa dan menjadikan Allah sebagai sumber penghiburan, pemulihan, dan harapan yang ia butuhkan. Tuhan akhirnya mengabulkan doa Hana dengan lahirnya Samuel.

Setelah Samuel lahirpun, Hana tetap berdoa menyatakan kemahakuasaan Allah atas hidupnya. Hana merayakan kebaikan Tuhan yang dapat menjadi tempat sandarannya sebab Ia Allah yang kudus, mahatahu, adil (ay 2-3), bertindak dalam kemahakuasaanNya atas perempuan mandul (ay 5), atas hidup dan mati (ay 6), atas perbedaan status yang dibuat manusia berdosa (ay 7-8), dan atas para pelaku kejahatan (ay 9). Hana menyadari bahwa hari-hari yang ia jalani seluruhnya diperhatikan oleh Allah yang telah menyatakan keadilan atas hidupnya. Hana tidak berhenti berdoa kepada Allah setelah Allah menjawab doanya, justru ia semakin memuji Allah. Dalam pengalaman kebergantungan Hana pada Tuhan, Hana akhirnya mengalami pengenalan yang benar tentang Allah. Hana semakin dikuatkan bahwa Allah yang ia sembah adalah satu-satunya Allah yang layak menjadi gunung batu (ay 2), tempat perlindungan bagi orang-orang yang dikasihiNya (ay 9-10). Hana membuktikan bahwa “Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepadaNya” (Maz 145:18).

Memasuki tahun baru 2017, bagi sebagian orang, menjadi momen menikmati kebaikan Allah, tapi bagi sebagian kita mungkin tahun yang baru ini kita mulai dengan kesedihan, kekhawatiran, ketakutan atau masalah. Khawatir akan apa yang terjadi dibulan-bulan kedepan, kondisi keuangan, tanggung jawab yang semakin besar, kesehatan, atau masalah lainnya, menjadi pembuka diawal tahun ini. Hana menjadi teladan bagi kita dalam menjalani hari-harinya yang bergantung pada Tuhan dalam doa. Menghadapi sakit hati yang ditimbulkan oleh Penina tidak membuat Hana membalas perbuatan Penina tapi ia datang membawa setiap keluhan dan harapannya pada Allah yang hidup. Allah yang menunjukkan keadilan bagi Hana adalah Allah yang sama yang juga memelihara kehidupan kita ditahun yang baru ini.

Apakah kita dalam kesusahan? Allah dapat memakai kondisi ini untuk menolong kita tetap bergantung padaNya. Apakah kita dalam kondisi bersukacita karena kelimpahan? Allah yang memberikan sukacita tersebut, dan kelimpahan tersebut menjadi alasan kita untuk mengucap syukur padaNya, melayaniNya dengan sepenuh hati, dan berbuat baik atas kecukupan yang Ia berikan (ay 7-8).

Belajar dari kehidupan Hana, sebagai manusia yang lemah, tidak ada seorangpun yang dapat bertahan hidup tanpa kebergantungan kepada Allah karena Ia adalah Sang Pencipta alam semesta yang sanggup dan mau menyediakan segala sesuatu yang kita butuhkan. Doa menjadi akses kita untuk datang kepada Allah dan belajar percaya pada Allah Bapa karena Ia tak pernah lalai menjaga anak-anakNya. Menjalani hari-hari ke depan di tahun yang baru ini mungkin penuh dengan ketidakpastian, tapi didalam Tuhan, kita meyakini dengan pasti bahwa Allah memelihara, menyertai dan tak pernah meninggalkan. Kekuatan terbesar kita menjalani tahun ini berasal dari kebergantungan kita kepada Allah yang kuat. Maka dari itu, tidak ada alasan kita untuk takut akan hari esok, sebab Allah yang memegang hari esok. Mari menjalani tahun yang baru ini dengan penuh kebergantungan pada Allah yang diwujudkan dalam doa. Bergantung pada Allah membuat kita lepas dari beban hidup yang menekan karena kita diingatkan bahwa kita tidak pernah sendiri menjalani kehidupan ini. Terlebih, Yesus yang adalah Tuhan sudah menjamin kehidupan kekal kita melalui pengorbananNya di kayu salib sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk takut dalam menjalani tahun yang baru ini.

“Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkanbuah ” (Yeremia 17:7-8).


0 Komentar
Anda harus Login untuk memberi komentar

     Find Us on Facebook  Share on Facebook

BERITA
Ulang tahun September...
08-09-2017, Dibaca: 78
...
Ulang tahun Agustus...
16-08-2017, Dibaca: 77
...
Ulang Tahun Juni...
08-06-2017, Dibaca: 128
...
Ucapan selamat ulang tahun....
02-03-2017, Dibaca: 323
...
Lihat Semua Berita >>
ARTIKEL TERBARU
Kekristenan Dalam Kebinekaan...
oleh Madriantonius Luther Bara, S. Kom: 24-10-2017
HBD...
oleh Sem: 24-10-2017
Birtdhday...
oleh Sem: 05-05-2017
Bergantung Sepenuhnya Kepada-N...
oleh Novhita Paembonan, SKM: 02-02-2017
Hidupi Firmanku di Zamanmu!...
oleh Multina Yusuf Tandi, SKM: 23-01-2017
Kemerdekaan yang Sejati...
oleh perkantas Makassar: 27-09-2016
Awal yang Baru...
oleh Novhita Paembonan, SKM: 08-03-2016
DOSEN: Peran Strategis untuk M...
oleh HERMANA KASELLE, ST, M.Eng: 16-04-2015
Lihat Semua Artikel >>


504531

Saat ini ada 59 tamu dan 0 online user