Pokok Doa  |  Link  |  Peta Situs
Email: Password:   Lupa Password?
Kemerdekaan yang Sejati
oleh perkantas Makassar: 27-09-2016, Dibaca: 381 kali

“Merdeka atau Mati” adalah semboyan yang  terus menerus diteriakkan oleh para pejuang dalam meraih kemerdekaan bangsa Indonesia. Teriakan ini tentu saja bukan teriakan biasa tetapi sebuah teriakan atau semboyan yang dilatarbelakangi oleh kemarahan atas perlakuan bangsa penjajah terhadap rakyat Indonesia. Sakit hati karena tindakan semena-mena bangsa penjajah, ketidak nyamanan di bawah penjajahan maupun  perasaan tidak bebas yang dialami bangsa kita semuanya bercampur menjadi satu melahirkan sebuah semangat yang membara dalam perjuangan meraih kemerdekaan. Perjuangan untuk meraih kemerdekaan, kebebasan yang dirindukan dan telah lama dinantikan.

Dalam kehidupan orang percaya, kemerdekaan yang sejati dialami ketika menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi. Orang percaya dibebaskan dari hukuman dosa yang bersifat kekal. Kematian Yesus di atas kayu salib telah memberikan kebebasan dari dosa bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Kebebasan ini tidak akan pernah diperoleh manusia dengan usaha apa pun yang mengandalkan kemampuan manusia. Hanya Yesus yang mampu memberikan kebebasan itu karena hanya Dialah yang mampu menjadi kurban yang menanggung hukuman atas semua dosa umat manusia.

Namun, setelah persatuan kita dengan kuasa Kristus dalam kematian-Nya yang membawa kemerdekaan dari kuasa dosa, pada kenyataannya dosa masih berusaha untuk dapat menguasai kita. Orang percaya masih memiliki kecenderungan untuk berdosa (Roma 7:15,21). Hal ini tentu saja menjadi sebuah pergumulan tersendiri bagi orang percaya dalam menjalani kehidupan yang merdeka di dalam Kristus. Kemerdekaan itu adalah kemerdekaan atas hukuman dosa yang bersifat kekal, tetapi bukan berarti orang percaya akan menjadi kebal terhadap dosa dan tidak akan bisa berbuat dosa lagi. Selama orang percaya masih hidup di dalam tubuh daging dan hidup di dalam dunia ini maka potensi untuk berbuat dosa itu akan selalu ada.

Jika demikan, bagaimana seharusnya orang percaya bersikap dalam menghadapi kondisi ini? Pertama-tama, kita perlu menyadari bahwa agar kita dapat mengalami kekudusan hari demi hari secara praktis, kita harus menerima fakta bahwa Allah, di dalam kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas, memandang baik untuk mengizinkan adanya pertempuran sehari-hari melawan dosa yang masih tinggal di dalam diri  kita. Hal itu bukan bertujuan untuk menjatuhkan manusia ke dalam dosa tetapi demi pertumbuhan dari orang percaya itu sendiri. Dalam hal ini Allah juga menyediakan sarana yang cukup bagi kita untuk memenangkan pertempuran-pertempuran kecil dalam kehidupan kita sehari-hari melawan dosa. Allah menyediakan pertolongan bagi kita agar kemenangan terhadap godaan dosa tidak menjadi sesuatu hal yang mustahil. Setiap kali orang percaya menghadapi kondisi godaan dosa, kita bisa meminta pertolongan dari Tuhan. Kristus juga akan memberikan kepekaan bagi orang percaya agar dapat mendengarkan suara Tuhan saat kita mencari pertolongan dari-Nya dalam perjuangan ini.

Namun demikian, dalam menghadapi pertempuran ini, juga sangat dibutuhkan perjuangan dari sisi orang percaya itu sendiri. Perjuangan yang pertama dalam perjalanan kekudusan orang percaya tentu saja adalah perjuangan untuk selalu hidup seturut dengan kehendak Allah. Mencari kehendak Tuhan melalui relasi yang intim dengan-Nya adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan orang percaya. Perjuangan yang lainnya adalah perjuangan dalam menjaga diri sendiri untuk tidak terjebak atau membawa diri sendiri masuk ke dalam jebakan iblis. Jangan sampai orang percaya merasa dirinya menjadi orang yang kebal terhadap dosa dan tidak mungkin tegoda jatuh ke dalam dosa sehingga dengan rasa percaya diri yang berlebihan berani masuk ke dalam kondisi-kondisi yang berpeluang besar membuatnya jatuh ke dalam dosa.

Sebagai orang percaya yang telah mengalami kemerdekaan di dalam Kristus, tidak membuat kita bersantai-santai dan menjalani kehidupan yang tanpa hambatan sama sekali. Akan ada banyak hambatan, termasuk godaan-godaan kuasa dosa. Seharusnya kita memiliki semangat juang yang besar dalam menjaga kekudusan hidup kita dan mengejar kekudusan yang sesuai dengan kehendak Yesus. Seperti yang tertulis, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (I Petrus 1:16).

penulis: Rendy Agustin Reynold, A.Md (staff siswa Perkantas Makassar)

 


0 Komentar
Anda harus Login untuk memberi komentar

     Find Us on Facebook  Share on Facebook

BERITA
Ulang tahun September...
08-09-2017, Dibaca: 78
...
Ulang tahun Agustus...
16-08-2017, Dibaca: 77
...
Ulang Tahun Juni...
08-06-2017, Dibaca: 128
...
Ucapan selamat ulang tahun....
02-03-2017, Dibaca: 323
...
Lihat Semua Berita >>
ARTIKEL TERBARU
Kekristenan Dalam Kebinekaan...
oleh Madriantonius Luther Bara, S. Kom: 24-10-2017
HBD...
oleh Sem: 24-10-2017
Birtdhday...
oleh Sem: 05-05-2017
Bergantung Sepenuhnya Kepada-N...
oleh Novhita Paembonan, SKM: 02-02-2017
Hidupi Firmanku di Zamanmu!...
oleh Multina Yusuf Tandi, SKM: 23-01-2017
Kemerdekaan yang Sejati...
oleh perkantas Makassar: 27-09-2016
Awal yang Baru...
oleh Novhita Paembonan, SKM: 08-03-2016
DOSEN: Peran Strategis untuk M...
oleh HERMANA KASELLE, ST, M.Eng: 16-04-2015
Lihat Semua Artikel >>


504483

Saat ini ada 9 tamu dan 0 online user