Pokok Doa  |  Link  |  Peta Situs
Email: Password:   Lupa Password?
Merdeka Pendidikan
oleh Hermana Kaselle, ST. MEng (Alumni) : 18-08-2014, Dibaca: 1432 kali

Merdeka….!! Merdeka…!!

Dirgahayu 69 tahun Indonesia…

Tak terasa enam dekade sudah bangsa ini, bangsa Indonesia mengecap kemerdekaan dari bangsa-bangsa penjajah. Perhelatan hari kemerdekaan bangsa ini tiap tahunnya pastinya dibuat sangat meriah. Lihat saja, tiap kali masuk bulan agustus di setiap sudut kota dan desa, di dalam gang, di sepanjang jalan-jalan protokol, di seantero nusantara berkibar sang merah putih dan diwarnai dengan hiruk pikuk pesta kemerdekaan. Bahkan sosial media pun tak kalah heboh, semua orang mengupdate status dan foto untuk menyelamati bangsa yang sedang berultah, meneriakkan kata merdeka!.. merdeka!. Suasana ulang tahun bangsa tahun ini menjadi lebih spesial lagi dikarenakan tahun ini bertepatan dengan momentum pesta demokrasi untuk pemilihan para legislatif dan pemilihan bapak bangsa. Setiap lapisan masyarakat sangat terbawa ke dalam perhelatan yang akbar ini, generasi muda pun untuk pertama kalinya ikut dengan aktif mengambil bagian dalam mengawal pemilu. Semua masyarakat tengah menantikan pengharapan baru untuk Indonesia yang akan dibawa oleh pemimpin baru natinya. Bangsa ini tak segan lagi memunculkan diri sebagai bangsa yang makin kritis dan obyektif serta berani tampil untuk menyuarakan demokrasi di negara ini. Namun apakah pesta kemerdekaan ini hanya sampai semarak, upacara, pesta rakyat dan sebagainya?? Tentu tidak. Sama halnya ketika seseorang merayakan pertambahan usianya tidak cuma dengan pesta tapi dengan banyak perenungan terhadap kondisi yang lalu dan resolusi-resolusi untuk tahun yang baru, seharusnyalah di dirgahayu bangsa ini kita pun tidak tenggelam dalam euphoria belaka, tetapi merefleksikan perjalanan bangsa kita. Mari melihat dua bagian kondisi bangsa ini yaitu pendidikan dan kemiskinan.

Indonesia sekarang telah berumur 69 tahun, usia yang sudah cukup matang dan dewasa, masa purna bila itu adalah seorang manusia. Di usia ini, Indonesia bukan lagi anak kemarin sore yang belum cukup pengalaman. Ironisnya di usia yang makin mapan ini, pendidikan anak-anak bangsa masih terus berada pada taraf yang masih rendah dan butuh di perjuangkan. Pada tahun 2012, tingkat pendidikan Indonesia menurut Education for All Global Monitoring UNESCO berada pada peringkat ke-64 dari 120 negara. Kemudian di tahun yang sama, data BBC melaporkan bahwa sistem pendidikan Indonesia menempati peringkat terendah dunia bersama Meksiko dan Brazil. Sementara itu pada Maret 2013 menurut The United Nations Development Programme (UNDP) indeks pembangunan manusia Indonesia berada pada peringkat 121 dari 185 negara. Data Kemendikbud 2010 menjelaskan bahwa di Indonesia terdapat lebih dari 1,8 juta anak tiap tahunnya tidak dapat melanjutkan pendidikan disebabkan oleh 3 faktor yaitu ekonomi, kerja usia dini untuk mendukung keluarga, dan pernikahan di usia dini. Kondisi lainnya adalah biaya pendidikan yang sangat mahal mengakibatkan si miskin kesulitan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, belum lagi kurikulum pendidikan yang lebih mengedepankan aspek kognitif sehingga melahirkan generasi yang pintar dengan otak tapi tidak cerdas dan bermoral rendah. Selain itu kualitas dan kuantitas tenaga pendidik sangat kurang, banyak guru-guru yang mengajar tidak sesuai dengan disiplin ilmunya, beberapa juga belum sarjana namun mengajar SMU/SMK, bahkan sertifikasi dosen dan guru yang sudah beberapa tahun ini dicanangkan masih kebanyakan menjadi ajang untuk menambah penghasilan bukan untuk peningkatan kulitas dari pendidik itu sendiri. Pendidikan merupakan kunci pembangunan suatu bangsa. Pendidikan menjadi kunci utama bebas dari kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan dan penindasan, sehingga masalah dalam dunia pendidikan haruslah menjadi perhatian banyak pihak. Dengan memiliki pendidikan yang bermutu juga tenaga pendidik yang berdedikasi akan menghasilkan pemimpin bangsa dan generasi yang berintelektual dan berakhlak mulia.

Bung Karno dalam pidato kemerdekaan tahun 1959 pernah berkata, “perjuanganku lebih muda karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”. Bangsa ini memang tengah berada dalam era kemerdekaan tetapi juga masih harus tetap berjuang, bukan perjuangan melawan aniaya bangsa lain, tapi perjuangan untuk memerdekakan diri dan bangsa ini dari segala bentuk ikatan yang merusak jati diri bangsa. Negara ini membutuhkan sebuah kondisi yang baru, sebuah revolusi yang menyeluruh, bahkan seperti kata bapak Jokowi negara ini butuh “revolusi mental”.  Karena dengan mental yang sehat akan muncul pribadi yang berkarakter mulia. 

Kehidupan orang kristen di Indonesia mestinya punya dampak. Kita adalah orang yang memiliki 2 kewarganegaran, warga negara surga dan tentunya warga negara Indonesia. Allah membuat kita lahir di Indonesia untuk “melakukan pekerjaan baik yang telah disiapkan Allah sebelumnya, Ia mau supaya kita hidup di dalamnya “(Ef 2:10). Kita diutus untuk menjadi garam dan terang. Garam dan terang itu haruslah “mengasinkan dan menerangi” setiap bidang kehidupan bangsa dimana kita ditaruh. Kaum nasrani haruslah bisa berperan penting dalam membentuk kaum intelektual muda untuk memerdekakan diri dari perbudakan dosa (Gal 5:1), menjadi pribadi yang menTuhankan Kristus dalam hidupnya, mengenakan manusia baru dalam Kristus (Ef 4:17-32), dan hidup penuh kasih melayani seorang akan yang lain (Gal 5:13, Yes 58:6-7). Pada akhirnya generasi muda yang takut akan Tuhan, berpendidikan, cerdas, punya pola pikir yang diubahkan oleh Roh Kudus, dan berkarakter akan bangkit dan memandu ibu pertiwi.

Diakhir tulisan ini, penulis ingin mengutip tulisan bang Sam Tumanggor dari buku Bangkit Memandu Bangsa “Saya rasa kita baru saja melihat hal penting lain yang bisa disumbangkan kaum Nasrani untuk memandu bangsanya: pemimpin-pemimpin berjiwa besar yang mencintai Tuhan dan sesama atau bangsa persis seperti Monginsidi. Jika anda membaca riwayat lengkap Robert Wolter Monginsidi, anda akan melihat lukisan tentang berkuasa dalam perkataan dan perbuatan. Saya kira pemimpin macam Mongisidilah yang perlu muncul banyak-banyak di tengah bangsa, secara khusus di  masa kemelut. Yang seperti dia bisa kita sebut pemimpin jenis macan loreng (gagah berani namun, sialnya langka). Bukan pemimpin jenis tekukur tulus (baik sendirian) atau bahkan tikus rakus (berpengaruh merusak) yang hari ini mudah dijumpai dimana-mana. Berbahagialah bangsa jika dimilikinya segudang macan loreng di berbagai bidang kehidupan dan dari TK sampai pemerintahan. Kepemimpinan mereka ibarat pilar-pilar penyangga bangsa. Tanpanya, terwujudlah pepatah yang dituliskan salomo ini : Jikalau tidak ada pimpinan jatuhlah bangsa (Ams 11:14)”.

Dirgahayu bangsaku…. Maju terus Indonesiaku… kami jadi pandumu.

Penulis: Hermana Kaselle, ST. MEng (Alumni)

 

 

 


0 Komentar
Anda harus Login untuk memberi komentar

     Find Us on Facebook  Share on Facebook

BERITA
Ulang tahun September...
08-09-2017, Dibaca: 78
...
Ulang tahun Agustus...
16-08-2017, Dibaca: 77
...
Ulang Tahun Juni...
08-06-2017, Dibaca: 128
...
Ucapan selamat ulang tahun....
02-03-2017, Dibaca: 323
...
Lihat Semua Berita >>
ARTIKEL TERBARU
Kekristenan Dalam Kebinekaan...
oleh Madriantonius Luther Bara, S. Kom: 24-10-2017
HBD...
oleh Sem: 24-10-2017
Birtdhday...
oleh Sem: 05-05-2017
Bergantung Sepenuhnya Kepada-N...
oleh Novhita Paembonan, SKM: 02-02-2017
Hidupi Firmanku di Zamanmu!...
oleh Multina Yusuf Tandi, SKM: 23-01-2017
Kemerdekaan yang Sejati...
oleh perkantas Makassar: 27-09-2016
Awal yang Baru...
oleh Novhita Paembonan, SKM: 08-03-2016
DOSEN: Peran Strategis untuk M...
oleh HERMANA KASELLE, ST, M.Eng: 16-04-2015
Lihat Semua Artikel >>


504500

Saat ini ada 27 tamu dan 0 online user