Pokok Doa  |  Link  |  Peta Situs
Email: Password:   Lupa Password?
Yesus kalah voting dan mati, orang Kristen di mana?
oleh Erwin Pauang Pongmasakke: 04-05-2014, Dibaca: 1819 kali

Yesus Kalah Voting dan Mati, Orang Kristen di mana?

Kronologis kematian Yesus beserta segala faktor penyebabnya selalu menjadi hal yang menarik untuk disimak dan masih menjadi sangat menantang untuk diamati relevansinya terhadap kondisi yang terjadi saat ini. Selain memang sudah dinubuatkan di dalam kitab nabi-nabi zaman perjanjian lama bahwa Yesus yang tidak berdosa memang harus mati disalib untuk menebus dosa manusia, satu hal yang seringkali tidak disadari oleh orang Kristen awam (bukan lulusan sekolah teologi) adalah faktor politis dibalik peristiwa penangkapan, pengadilan hingga penetapan hukuman mati yang menimpa Yesus.

Kitab Suci Alkitab terutama keempat kitab Injil menulis kronologis mulai dari rencana penangkapan, proses penangkapan, berjalannya proses peradilan hingga penetapan hukuman mati Yesus sarat dengan keputusan politik di dalamnya.

Hal yang pertama adalah ketidaksukaan dan iri hati orang Farisi dan ahli Taurat akan Yesus yang sangat mengkritik formalisme, ritual dan ketaatan kosong orang Farisi dan ahli Taurat sehingga perlahan-lahan ajaran Yesus bisa menjadi ancaman bagi keberadaan mereka. Ketokohan Yesus dan ajarannya mendapat perhatian pengikut yang lebih besar daripada yang dapat dilakukan oleh orang Farisi dan ahli Taurat. Kepopuleran dan ketokohan Yesus tergambar dengan sorak-sorai penduduk Yerusalem saat Yesus menunggangi keledai memasuki kota Yerusalem (Matius 21). Puncak dari kepentingan yang terancam ini adalah persepakatan imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi bersama Imam Besar Kayafas untuk menangkap dan membunuh Yesus (Matius 26). Mereka merencanakan tipu muslihat untuk membunuh Yesus.

Dalam proses peradilan Yesus sampai pada proses penetapan hukuman mati  sekali lagi kita melihat kepentingan politis di dalamnya. Kondisi pada saat itu adalah proses peradilan Yesus disaksikan dan dikawal oleh imam-imam kepala, tua-tua Yahudi, ahli-ahli taurat dan para pengikut hasutannya yang memang sudah sejak awal merencanakan penangkapan dan hukuman mati atas Yesus. Ada begitu banyak suara yang menuntut vonis yang tidak adil pada Yesus. Pilatus yang tidak mendapat satu kesalahan pun pada Yesus terpaksa mengalah dan mengorbankan satu orang demi menjaga ketertiban umum dan menghindari kekacauan. Penting untuk kita diketahui bahwa pada masa Yesus bangsa Yahudi ada di bawah kekuasaan Romawi sehingga sedikit saja perlawanan dari bangsa Yahudi akan berpotensi terjadinya pemberontakan dan mengancam kedaulatan Romawi. Dalam kondisi yang demikian terdesak Pilatus terpaksa mengadakan “voting” dan hasilnya adalah seruan dari kerumunan orang yang meminta vonis hukuman mati yaitu penyaliban bagi Yesus yang tidak bersalah (Matiu 27:22). Lagi menurut catatan Alkitab bahwa ada kebiasaan untuk melepaskan seorang tawanan pada hari raya Paskah dan kehendak mayoritas meminta Barabas sang penyamun dibebaskan, sebagai gantinya Yesus yang tidak bersalah disalibkan. Kita melihat dua keputusan yang menjadi pukulan telak bagi penegakan hukum. Hal yang tentunya sangat disayangkan.

Merefleksikan kedua peristiwa ketidakadilan diatas maka tidak salah lagi bahwa keterlibatan orang Kristen dalam hal-hal yang bersifat politis sangat diperlukan dan tidak boleh kurang sedikit daripada usaha dan keterlibatan dalam bidang yang lainnya seperti misi, pendidikan, ekonomi, dan lain-lain. Gereja dalam arti tubuh Kristus harus mengirimkan orang-orang terbaiknya untuk menegakkan hukum dan keadilan bagi orang-orang yang tertindas baik secara sistematis oleh lembaga negara/publik maupun secara matematis/kuantitas oleh kehendak mayoritas yang belum tentu benar secara prinsip.

Dari peristiwa ketidakadilan yang menimpa Yesus orang Kristen harus belajar bahwa suara mayoritas atau representasi kehendak umum bukan atau tidak selalu merupakan suatau kebenaran. Dengan demikian voting tidak selalu merupakan solusi paling tepat atas suatu permasalahan. Kehendak mayoritas yang menghendaki kejahatan adalah bentuk rusaknya moral pribadi dan bangsa, kita sudah belajar itu dari kisah Yesus di atas dan seharusnya cukup Yesus saja yang menjadi korban.

Perpanjangan tangan kejahatan seringkali mewujud dalam rupa tokoh agama/orang beragama yang memperalat agama demi kepentingan pribadinya seperti orang Farisi pada peristiwa pengadilan Yesus. Jangan sampai orang Kristen saat ini turut membangkitkan kembali generasi orang Farisi, ahli Taurat dan segolongannya.

Dikaitkan dengan konteks Indonesia saat ini terutama dalam persiapan menghadapi pemilu presiden dan telah selesainya pemilu legislatif maka usaha serius dan peran dari orang Kristen untuk menyatakan kebenaran, keadilan dan menjadi terang bagi bangsa sangat dinantikan. Kebisuan kita dalam menanggapi isu-isu seputar calon presiden-wakil presiden, ketidak pahaman akan ideologi dan arah kebijakan partai serta arah koalisi dan peta kekuatannya, kesalahan menetapkan kriteria bagi calon presiden-wakil presiden, ketidaktahuan akan rekam jejak calon presiden-wakil presiden mungkin saja akan berujung pada terwujudnya ketidakadilan dan kemenangan kehendak mayoritas yang liar, dzolim dan jahat seperti yang menimpa Yesus. Orang kristen harus mampu dan mau menginterpretasikan dan memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan universal Alkitab menjadi kehendak umum masyarakat serta mewujudkannya melalui jalur yang tersedia. Kegamangan orang Kristen akan dibayar dan dinikmati seluruh masyarakat dengan harga yang mahal.

Maka jika suatu saat ada peristiwa serupa peristiwa Yesus yang oleh kehendak sekelompok orang ingin menghukum orang yang tidak bersalah atau memberikan putusan yang tidak adil terhadap suatu permasalahan seharusnya orang Kristen dapat memberikan suaranya, menyatakan sikapnya dalam kebenaran dan meyakinkan publik melalui mekanisme-mekanisme yang ada bahwa keadilan dan kebenaran harus ditegakkan. Tidak boleh ada lagi Yesus-Yesus lain yang mati karena ketidakadilan dan keliaran kehendak umum yang keliru.

Secara keseluruhan, peristiwa kematian Yesus selain simbol kasih Allah yang begitu besar pada manusia yang berdosa juga adalah simbol ketidakadilan dan dengan demikian maka tugas orang Kristen salah satunya adalah untuk melawan ketidakadilan dan menyatakan kebenaran dalam segala bidang. Kondisi menjadi semakin buruk bukan saja karena kejahatan atau jumlah orang jahat menjadi banyak tetapi juga karena orang benar memilih bungkam.


0 Komentar
Anda harus Login untuk memberi komentar

     Find Us on Facebook  Share on Facebook

BERITA
Ulang tahun September...
08-09-2017, Dibaca: 78
...
Ulang tahun Agustus...
16-08-2017, Dibaca: 77
...
Ulang Tahun Juni...
08-06-2017, Dibaca: 128
...
Ucapan selamat ulang tahun....
02-03-2017, Dibaca: 323
...
Lihat Semua Berita >>
ARTIKEL TERBARU
Kekristenan Dalam Kebinekaan...
oleh Madriantonius Luther Bara, S. Kom: 24-10-2017
HBD...
oleh Sem: 24-10-2017
Birtdhday...
oleh Sem: 05-05-2017
Bergantung Sepenuhnya Kepada-N...
oleh Novhita Paembonan, SKM: 02-02-2017
Hidupi Firmanku di Zamanmu!...
oleh Multina Yusuf Tandi, SKM: 23-01-2017
Kemerdekaan yang Sejati...
oleh perkantas Makassar: 27-09-2016
Awal yang Baru...
oleh Novhita Paembonan, SKM: 08-03-2016
DOSEN: Peran Strategis untuk M...
oleh HERMANA KASELLE, ST, M.Eng: 16-04-2015
Lihat Semua Artikel >>


504502

Saat ini ada 30 tamu dan 0 online user