Pokok Doa  |  Link  |  Peta Situs
Email: Password:   Lupa Password?
Keterwakilan Identitas Primordial, Sebuah Bahaya Bagi Demokrasi! Peran kita?
oleh Erwin Pauang Pongmasakke: 27-03-2014, Dibaca: 1404 kali

Keterwakilan Identitas Primordial, Sebuah Bahaya Bagi Demokrasi! Peran kita?

Menjelang pesta demokrasi yaitu Pemilu Legislatif pada tanggal 09 April 2014 para caleg mulai menyusun strategi untuk memikat hati masyarakat agar rela memberikan suaranya pada mereka. Berbagai cara dilakukan, mulai dari pemaparan dan sosialisasi visi dan misi hingga kunjungan caleg dan tim sukses ke berbagai aktivitas sosial masyarakat.

Ada satu hal yang menggelitik penulis ketika menghadiri ibadah pada salah satu gereja di Makassar ketika kelompok paduan suara perwakilan salah satu caleg muncul dan memperkenalkan diri di gereja. Mereka melayani puji-pujian lewat paduan suara dalam ibadah tersebut. Penulis tidak sepenuhnya menyalahkan, tindakan ini lebih tepat penulis sebutkan sebagai sosialisasi. Gejala seperti ini mungkin tidak hanya muncul pada aktivitas ibadah umat Kristen saja, tapi pada aktivitas ibadah semua agama di Indonesia dan pada dasarnya tidak ada yang terlalu salah dalam hal ini. Namun meski tidak ada yang terlalu salah, ada hal esensial yang perlu dipahami dalam proses kita berdemokrasi. Saat menjelang pemilu agama, suku, hubungan kekeluargaan dan identitas primordial lainnya seringkali menjadi barang jualan para caleg. Para caleg dengan begitu lihai melihat peluang besar untuk meraup suara dengan menyeret identitas primordial tersebut. Hal ini didukung dengan minimnya pendidikan politik dan demokrasi pada masyarakat yang seharusnya menjadi peran utama partai politik agar masyarakat dengan rela memberikan suara mereka pada caleg dengan tidak hanya mendasarkan pada identitas primordial belaka semisal kesamaan agama dan suku.

Fenomena ini merupakan bahaya namun sekaligus tantangan bagi demokrasi. Kita tidak dapat menutup mata pada perilaku oportunis para caleg yang memanfaatkan identitas primordialnya sebagai strategi untuk meraih dukungan. Hal ini tidak salah, hanya saja sebaiknya tidak perlu dilakukan karena berpotensi membodohi masyarakat dan tidak memberikan teladan perilaku politik yang baik bagi masyarakat. Para caleg ini seperti mengalami kemiskinan identitas (poor of identity).

Pemilu legislatif pada idealnya seharusnya adalah usaha meraih dukungan rakyat untuk memperjuangkan kepentingan rakyat juga. Dengan demikian para caleg harus mampu menerjemahkan kepentingan rakyat dan segenap pergulatan yang dihadapi rakyat saat ini kedalam visi dan misinya. Seorang caleg harus mampu mengidentifikasikan dirinya sebagai perwakilan dari seluruh rakyat, bukan hanya perwakilan dari konstituennya, dan membaktikan dirinya untuk kepentingan keseluruhan rakyat. Dengan menggunakan logika bahwa visi dan misi muncul dari kesadaran akan permasalahan yang terjadi sekarang dan merumuskannya ke dalam  kondisi ideal yang kita harapkan, maka kita hampir selalu dapat mencium arah gerak para caleg yang menjual identitas primordial mereka selama kampanye jika mereka akhirnya terpilih nanti. Karena gagal mengidentifikasi dirinya sebagai perwakilan seluruh rakyat dan dukungan suara yang diterima berasal dari kelompok masyarakat segolongannya maka garis kebijakannya pun tidak akan melenceng jauh dari kepentingan kelompok masyarakat pendukungnya yang mana hal itu pada akhirnya akan mereduksi fungsi MPR, DPR(D) dan DPD dan sebagai perwakilan seluruh rakyat untuk menyuarakan kepentingan rakyat menjadi perwakilan kelompok, menjadi sekedar etalase dan ajang unjuk kekuatan beberapa kelompok dominan yang sukses menempatkan wakilnya dalam parlemen.

Melihat fenomoena penggunaan mimbar ibadah ini sebagai media sosialisasi maka sudah seharusnya kita sebagai warga negara dan sebagai bagian dari masyarakat terdidik untuk mendukung proses demokrasi yang berlangsung dengan terpanggil untuk bersikap positif melihat inti masalah yang dialami para caleg: mereka kekurangan ruang untuk menyampaikan program politik mereka. Sehingga dengan demikian kita harus menjalankan peran untuk memberi ruang dan mendukung proses penyampaian kabar baik tersebut minimal kepada kelompok terkecil dimana kita ada didalamnya. Dalam lingkup yang lebih luas maka kita harus terlibat misalnya dalam membentuk kelompok-kelompok diskusi yang mengundang para caleg untuk diskusi, tanya jawab dan memberikan kesempatan untuk menyampaikan visi dan misinya menjadi anggota legislatif.

Kelompok diskusi ini memiliki dua fungsi, yang pertama untuk membangun kesadaran politik kolektif sebagai warga negara dewasa dan yang kedua menjadi proses yang baik untuk menggali dan menemukan ide-ide baik maupun buruk dari seorang caleg yang akan dipilih oleh masyarakat nantinya. Dengan demikian maka kita turut membukakan mata masyarakat dan menuntun mereka untuk menentukan pilihan yang tepat saat pemilu legislatif berlangsung. Jika ada ruang penyaluran seperti ini maka seharusnya penggunaan ruang-ruang ibadah dan ruang privat lainnya sebagai ruang untuk sosialisasi dapat diminimalisir.

Tidak menutup kemungkinan Perkantas maupun PMK sekecil-kecilnya juga dapat memainkan peran di dalam proses ini. Malah seharusnya dituntut lebih banyak karena posisi strategisnya dalam pelayanan kaum muda. Beberapa media online merilis berita bahwa komposisi pemuda dalam DPT pemilu 2014 mencapai 30%-40% atau setara dengan kurang lebih 40 juta jiwa yang mana tentunya pilihan pemuda ini dapat menentukan arah politik negara lima tahun ke depan. Dapat kita bayangkan akibatnya jika kelompok pemilih muda yang mungkin beberapa diantaranya adalah binaan Perkantas dan PMK ini memutuskan untuk golput atau memilih caleg yang tidak tepat tanpa petimbangan yang baik sebelumnya. Bertolt Brecht (1898-1956) seorang penyair Jerman pernah menulis:

The worst illiterate is the political illiterate, he doesn’t hear, doesn’t speak, nor participates in the political events. He doesn’t know the cost of life, the price of the bean, of the fish, of the flour, of the rent, of the shoes and of the medicine, all depends on political decisions. The political illiterate is so stupid that he is proud and swells his chest saying that he hates politics. The imbecile doesn’t know that, from his political ignorance is born the prostitute, the abandoned child, and the worst thieves of all, the bad politician, corrupted and flunky of the national and multinational companies.” (Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung kepada keputusan politik. Orang yang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional).


Pelayanan Perkantas, PMK, LSM Kristen sebagai organisasi dan pemuda kristen pada umumnya memiliki mandat sosial yang harus diemban terkait hal ini sebagai konsekuensi dari dwikewarganegaraan kita, warga negara kerajaan Allah dan warga negara Indonesia yang kita cintai. Panggilan dalam proses politik ini harus kita maknai juga sebagai salah satu panggilan Tuhan yang harus kita kerjakan. Kita juga harus memiliki kerinduan yang sama besar antara menelaah ide-ide dan ajaran luhur kitab suci dengan menerjemahkannya kedalam aksi sosial yang nyata. Salah satu usaha untuk membumikan nilai Firman Tuhan adalah demikian.

 

Penulis :

Erwin Pauang Pongmasakke

(Alumni PMK Kota Makassar)



Topik Terkait :
Yesus kalah voting dan mati, orang Kristen di mana?
0 Komentar
Anda harus Login untuk memberi komentar

     Find Us on Facebook  Share on Facebook

BERITA
Ulang tahun September...
08-09-2017, Dibaca: 38
...
Ulang tahun Agustus...
16-08-2017, Dibaca: 43
...
Ulang Tahun Juni...
08-06-2017, Dibaca: 90
...
Ucapan selamat ulang tahun....
02-03-2017, Dibaca: 246
...
Lihat Semua Berita >>
ARTIKEL TERBARU
Birtdhday...
oleh Sem: 05-05-2017
Bergantung Sepenuhnya Kepada-N...
oleh Novhita Paembonan, SKM: 02-02-2017
Hidupi Firmanku di Zamanmu!...
oleh Multina Yusuf Tandi, SKM: 23-01-2017
Kemerdekaan yang Sejati...
oleh perkantas Makassar: 27-09-2016
Awal yang Baru...
oleh Novhita Paembonan, SKM: 08-03-2016
DOSEN: Peran Strategis untuk M...
oleh HERMANA KASELLE, ST, M.Eng: 16-04-2015
DATANGLAH KERAJAAN-MU (Zakaria...
oleh Perkantas SulSel: 02-02-2015
Yosua 5:13-6:27 “Secrets of th...
oleh Melinda Pulung: 31-10-2014
Lihat Semua Artikel >>


492411

Saat ini ada 52 tamu dan 0 online user